
Yang membuat semakin istimewa, De Djawatan ini sebenarnya juga bukan hutan. Luasnya pun hanya 3,8 hektar. De Djawaatan sebenarnya hanya bekas lahan penyimpanan kayu jati milik Jawatan Perhutani. Karena itu akhirnya dipakai untuk menamainya menjadi “De Djawatan”.
Hutan de Djawatan Benculuk awalnya terdapat bangunan yang digunakan sebagai tempat pengelolaan kereta api. Namun kini, hutan yang berisi pohon trembesi tersebut sudah berganti fungsi menjadi destinasi wisata yang hits abis. Banyak motor dan mobil pengunjung yang mendatangi hutan yang seperti di film Lord of The Rings tersebut. Hutan ini biasanya ramai dikunjungi pada sore hari, ketika cahaya matahari samar-samar menelusup di rimbunnya pepohonan di hutan ini.

Kekaguman terpancar dari mata, tidak hanya karena melihat pohon-pohon trembesi tua berukuran besar, tapi karena paku-pakuan yang tumbuh di pepohonan itu membuatnya terlihat makin unik dan cantik. Sensasinya seperti memasuki negeri dongeng atau bagian dunia yang lain. Seperti berada di negara empat musim yang hutannya serba homogen. Padahal De Djawatan berada di daerah tropis yang hutannya karakternya heterogen di ujung timur pulau Jawa, tak jauh dari pusat kota Banyuwangi.
Dari kota Banyuwangi, De Djawatan jaraknya hanya 30 km ke arah selatan. Tepatnya ke arah daerah Benculuk. Dengan mobil bisa ditempuh dalam waktu kurang dari satu jam. Kalau menggunakan angkutan umum, ke terminal Karang Ente dulu, terus cari bis umum jalur Banyuwangi-Jember. Nanti tinggal turun di lampu merah Benculuk. De Djawatan hanya seratus meter dari tempat lampu merah.
Di Hutan De Djawatan, dengan karcis masuk hanya Rp 5.000 per orang, wisatawan bisa sejenak duduk bersantai menikmati pemandangan serba hijau yang menawan, menghirup udara segar dan sejenak biarkan imajinasi kita berkelana..
Tinggalkan komentar